Mbah Ranoemustopo yang sudah tua renta duduk di kursi samping meja bundar di ruang depan rumah Adipala, sambil menatap mengamati halaman yang luas, bersih, dan indah seakan dilukis dengan tapak sapu yang baru saja dimainkannya. Demikian dilakukannya hampir setiap pagi sesudah menunaikan ibadah shalat subuh.
Sebuah cangkir porselen berukuran besar berisikan kopi kental yang panas, dilengkapi dengan pacitan, nasi ketan, mendoan, serabi, selalu saja berada di atas meja bundar itu yang disajikan oleh Mbah Putri semasa sugengnya.
Segimpit tembakau dikeluarkannya dari slepen digelar di atas klaras (pembungkus rokok) di-uwur-nya dengan klembak dan kemenyan kemudian dilinting maka jadilah sebatang rokok, kemudian disulutnya rokok itu dengan bara upet .
Hisapan demi hisapan rokok kemenyan dengan selingan seruputan kopi panas disusul dengan menyantap nasi ketan dan tempe mendoan merupakan kenikmatan tersendiri yang tampak pada leluhur kita itu, Mbah R Ranoemoestopo pada masa-masa akhir hidupnya.
Itulah salah satu kebiasaannya…………
(Sudaryo)
Keterangan:
[1] Slepen : tempat (kantong) perlengkapan bahan-bahan membuat rokok menyan terbuat dari anyaman pandan
[1] Klaras : pembungkus rokok (papir) terbuat dari daun pisang kapok muda direbus kemudian dijemur, setelah kering dipotong-potong menjadi pembungkus/kulit rokok.
[1] Upet : terbuat dari kulit manggar (bunga kelapa) kering yang disebut mancung, dipotong memanjang menjadi sebesar pensil, kemudian sepanjangnya dimemarkan maka jadilah upet, manakala dibakar ujungnya upet akan membara sepanjang hari sampai habis.